Pendidikan karakter
yang digaungkan dua tahun terakhir ini, benar-benar hanya proyek belaka, sama
seperti halnya proyek-proyek lain yang setelah dana proyeknya habis hanya
tinggal kenangan saja. Hal ini Nampak jelas bahwa proyek pendidikan karakter
belum berhasil memperbaiki karakter bangsa. Apa yang saya alami hari ini
merupakan salah satu bukti nyata bahwa karakter bangsa kita belum baik.
Hari ini jumat, 11
April 2014 tepat saat sholat jum’at dilaksanakan, dua orang pencuri membawa
lari motor saya. Saat itu motor tersebut sedang di pakai anak saya ke sekolah. Lokasi
pencurian terjadi di halaman sekolah salah satu sekolah “ternama” di kota saya.
Pada pukul 12.32 anak saya mengabari saya melalui sms dan telepon bahwa motornya
hilang. Saya terkejut kenapa kok anak saya yang telepon sendiri? Kemana gurunya
atau pihak sekolah? Tanpa memikirkan jawaban dari kedua pertanyaan diatas, saya
langsung bilang ke anak saya untuk segera minta bantuan sekolah untuk
pertolongan pertama melapor ke pihak berwajib. Sambil menunggu saya sampai di
sekolahnya. Tiga puluh menit kemudian saya tiba di sekolah. Saya cukup terkejut
melihat anak saya Nampak bingung sendiri di halaman parkir sekolah. Kembali
muncul pertanyaan di benak saya, kemana gurunya? Jawaban tersebut langsung saya
terima saat saya memasuki ruang tata usaha.
Di ruang tersebut sudah
menunggu 2 orang guru. Salah satu dari mereka menghampiri saya. Setelah
menjelaskan bahwa saya orang tua dari siswa nya, tiba-tiba dengan mimik muka
yang sangat tidak bersahabat beliau mulai berbicara. Sesaat saya sangat
terkejut, inikah sambutan pihak sekolah terhadap orang tua murid yang terkena
musibah? Beliau menjelaskan panjang lebar bahwa anak saya melanggar peraturan
sekolah. Tentu saja sikap dan ucapan guru yang merangkap wakasek kesiswaan itu
membuat anak saya semakin shock.
Selama beliau berbicara
saya hanya terdiam, mendengarkan ucapannya sampai keluar ucapan yang tidak saya
sangka “silahkan aja orang tua mengurusi karena ini bukan urusan sekolah!”
Dengan nada marah dan raut muka yang sangat tidak enak untuk dipandang.
Astagfirullahaladziim, perlakuaan apa ini? Mana rasa empati pihak sekolah
kepada kami yang sedang tertimpa musibah? Kami sudah menyampaikan permohonan
maaf atas kelalaian melanggar peraturan sekolah, kami sadar kami salah. Tapi
apakah dengan begitu beliau bisa seenaknya memarahi kami??? Tentu saja tidak
begitu seharusnya.
Anak saya sedang shock
dan takut karena motornya hilang, harusnya guru bisa memahami psikologisnya dan
berusaha menenangkannya, menunjukkan rasa empati terhadap musibah yang kami
terima.
Mengapa setelah motor
kami hilang, guru marah-marah karena siswa tidak mematuhi peraturan sekolah??
Mengapa tidak dari awal seluruh siswa yang membawa motor (ada banyak siswa yang
membawa motor) dan orang tua dipanggil kesekolah untuk diberi penjelasan dan
pemahaman sebagai upaya sekolah untuk tindakan pencegahan agar tidak terjadi
hal yang seperti kami alami?? Apakah dengan beliau marah-marah motor saya bisa
langsung kembali??? Semua pertanyaan saya tanpa jawaban.
Bagaimana seorang guru mampu
menunjukkan karakter yang tidak baik?? Bagaimana dia akan menerapkan pendidikan
berkarakter sementara dia sendiri belum bisa berkarakter baik?? Satu saja contoh
karakter yang harus dia tunjukkan berempati kepada kami.
Berempati menurut kamus
bahasa Indonesia adalah kedaan mental yang membuat seseorang merasa dirinya
dalam keadaan perasaan dan pikiran yang sama dengan orang lain. Berempati
termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain. Hal ini menciptakan keinginan untuk menolong,
mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang
lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Sehingga
dia bisa tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu seseorang yang terkena
musibah.
Jika guru tersebut mempunyai rasa berempati sedikit saja,
tentu dia bisa memahami kondisi kami saat itu. Memahami psikologis anak saya. Sehingga
apa yang kami alami tidak akan terjadi lagi pada orang lain. Kami tertimpa
musibah dan kami sadar dan mengakui kelalian kami. Tapi kami semakin tersudut
dengan pihak sekolah yang tidak perduli kondisi kami. Nampaknya sekolah ini
memang tidak mengjarkan siswa-siswanya untuk berempati terhadap orang lain.
Karena saat gurunya juga belum bisa berempati terhadapat orang lain.
Semoga ini apa yang saya alami ini hanya akibat dari seorang
“oknum” guru, semoga masih banyak guru-guru baik yang mempunyai karakter baik
sehingga mampu menerapkan pendidikan karakter sehingga mampu mencetak generasi
bangsa dengan karakter yang baik. Waallahu’alam…
No comments:
Post a Comment